pgpaud.umsida.ac.id — Sandi Tramiaji Junior menjadi salah satu pemateri yang membahas tari kreasi dalam Workshop Pembelajaran Mendalam Melalui Budaya Lokal Kuatkan Karakter Bangsa yang digelar Himpaudi Kabupaten Sidoarjo pada Sabtu, 31 Januari 2026 pukul 08.00–15.00 WIB.
Kegiatan berlangsung di Aula Nyai Walidah Auditorium GKB 7 dan dihadiri pendidik PAUD serta pegiat pendidikan yang ingin memperkuat praktik pembelajaran berbasis budaya lokal.
Dalam sesi pemaparannya, Sandi menekankan bahwa budaya lokal yaitu tari kreasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk “materi hafalan” semata, tetapi dapat diolah menjadi pengalaman belajar yang menyentuh gerak, emosi, dan kerja sama anak.
“Anak usia dini belajar paling kuat lewat pengalaman langsung. Seni, terutama tari, memberi ruang itu: bergerak, merasakan irama, lalu mengekspresikan diri,” ujarnya di hadapan peserta.
Budaya Lokal sebagai Pintu Masuk Pembelajaran Mendalam
Workshop ini mengangkat gagasan bahwa pembelajaran mendalam bisa dimulai dari hal yang dekat dengan keseharian anak: lingkungan, tradisi, permainan, hingga musik dan gerak.
Dalam konteks itu, tari diposisikan sebagai media yang memudahkan anak mengenali nilai, aturan sederhana, dan kebiasaan baik melalui aktivitas menyenangkan.
Sandi mengajak pendidik melihat tari sebagai sarana membangun karakter, bukan sekadar tampil di panggung.
Ia menyoroti bahwa proses latihan mengikuti instruksi, bergiliran, menghargai teman, dan disiplin sejatinya adalah pembelajaran karakter yang konkret.
“Kalau anak belajar formasi sederhana, itu sebenarnya latihan tertib dan kerja sama. Kalau anak menunggu giliran, itu latihan kontrol diri,” katanya.
Di sela pemaparan, suasana kelas dibuat interaktif. Sandi beberapa kali melempar pertanyaan pemantik dan mengajak peserta merespons dari pengalaman lapangan.
“Ada yang ditanyakan? Tantangannya biasanya muncul di mana: anak sulit fokus, atau gurunya bingung menyusun geraknya?” ucapnya, memancing diskusi yang kemudian berkembang pada strategi pendampingan anak dan peran guru saat kegiatan seni berlangsung.
Materi Tari Kreasi untuk Anak Usia Dini yang Praktis
Fokus utama materi yang dibawakan Sandi adalah “tari kreasi” sebagai pendekatan pembelajaran yang mudah diterapkan di PAUD, dengan pijakan perkembangan anak.
Ia menjelaskan ringkas sejarah tari dari fungsi ritual pada masa prasejarah, berkembang di era kerajaan sebagai seni pertunjukan istana dan rakyat, hingga era modern yang melahirkan tari pendidikan, tari kreasi, dan tari kontemporer.
Lebih penting dari sejarah, menurutnya, adalah cara guru memetakan kebutuhan anak. Dalam materi, ia merinci manfaat tari bagi anak usia dini dari aspek fisik, kognitif, psikologis, sosial, dan estetika.
Tari melatih motorik, keseimbangan, koordinasi, sekaligus membantu konsentrasi dan daya ingat melalui urutan gerak.
“Anak itu senang bergerak aktif. Kalau kita arahkan, energi itu jadi modal belajar,” ujarnya.
Sandi juga menekankan prinsip desain tari untuk PAUD agar tetap ramah dan aman: gerak sederhana mudah ditiru, berbasis gerak dasar seperti jalan, lompat, putar, tepuk, serta bersifat imitatif (meniru hewan, tumbuhan, atau alam).
Musik sebaiknya ceria dengan tempo sedang hingga cepat, lirik sederhana, dan durasi singkat sekitar 2–4 menit dengan formasi tidak rumit.
Dari Metode Penciptaan hingga Penguatan Karakter Anak
Agar guru tidak berhenti pada “meniru video”, Sandi memperkenalkan alur metode penciptaan karya tari yang bisa dipakai pendidik: eksplorasi, improvisasi, komposisi, implementasi, lalu evaluasi.
Alur ini membantu guru menyusun pembelajaran dari tahap mencoba, memilih gerak, merangkai, mempraktikkan, hingga menilai hasilnya bersama anak.
Ia mencontohkan bagaimana budaya lokal bisa masuk secara halus: tema alam sekitar, permainan tradisional, atau gerak yang terinspirasi dari aktivitas sehari-hari.
Bagi Sandi, kunci pembelajaran mendalam bukan pada rumitnya koreografi, tetapi pada konsistensi proses yang mendidik.
“Karakter bangsa itu dibentuk dari kebiasaan kecil yang diulang. Dalam tari, kebiasaan itu hadir lewat disiplin, tanggung jawab, dan keberanian tampil,” tuturnya.
Di akhir sesi, peserta diarahkan menyusun rancangan singkat pembelajaran tari kreasi yang dapat dibawa pulang ke lembaga masing-masing.
Diskusi ditutup dengan ajakan untuk menjaga semangat kolaborasi antarpendidik.
“Kita bukan sedang mengejar pertunjukan yang mewah, tapi pengalaman belajar yang bermakna. Kalau anak pulang lebih percaya diri dan lebih tertib, itu sudah capaian besar,” pungkas Sandi.
Penulis: Nabila Wulyandini

















