pgpaud.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Montessori menjadi pendekatan pembelajaran yang diterapkan mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) 2 dalam mendampingi anak-anak di TPA-TC-KB-TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Bebekan.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang memadukan kegiatan klasikal dan individual untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Kegiatan ini dirancang agar anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan masing-masing.
Penerapan metode Montessori memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman langsung sekaligus mengembangkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Mahasiswa PLP 2 tidak hanya berperan sebagai pendamping pembelajaran, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu anak mengeksplorasi lingkungan belajar sesuai minat dan kemampuannya.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menerapkan teori pembelajaran anak usia dini secara langsung di lingkungan sekolah.
Montessori Padukan Kegiatan Klasikal dan Eksplorasi Anak
Pada sesi klasikal, anak-anak mengikuti berbagai kegiatan bersama yang dirancang untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat belajar.
Mahasiswa PLP 2, Putri Wulandari, menghadirkan berbagai aktivitas seperti menanam tanaman, merawat lingkungan, membuat oblek, melakukan eksperimen warna menggunakan tisu, hingga mendaur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat.
Kegiatan menanam dan merawat tanaman memberikan pengalaman kepada anak untuk mengenal alam sekaligus belajar tentang tanggung jawab.
Anak-anak diajak merasakan tekstur tanah, menempatkan bibit ke dalam media tanam, dan menyiram tanaman secara bersama-sama.
Sementara itu, eksperimen warna menggunakan tisu menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian anak karena mereka dapat mengamati perpindahan warna secara langsung.
Aktivitas membuat oblek juga memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas dan melatih kemampuan motorik halus melalui berbagai bentuk yang mereka ciptakan.
Kegiatan mendaur ulang sampah membantu anak memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini melalui aktivitas yang sederhana dan menyenangkan.
Melalui pembelajaran klasikal, anak belajar berkolaborasi, menunggu giliran, dan mengikuti arahan bersama teman-temannya dalam suasana yang kondusif.
Pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk membangun kemampuan sosial anak tanpa mengurangi kebebasan mereka dalam bereksplorasi.
Montessori Kembangkan Kemandirian Melalui Pendampingan Individu

Selain kegiatan kelompok, mahasiswa PLP 2 juga menerapkan pembelajaran individual yang menjadi salah satu ciri utama pendekatan Montessori.
Dalam sesi ini, anak memperoleh pendampingan yang lebih personal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Berbagai keterampilan hidup diperkenalkan kepada anak, mulai dari mencuci tangan dengan benar, membuka dan menutup pintu dengan sopan, menata tas, hingga mengenakan dan melepas sepatu serta kaos kaki secara mandiri.
Kegiatan sederhana tersebut membantu anak membangun kemandirian yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa juga mengenalkan penggunaan empat kata penting, yaitu maaf, tolong, permisi, dan terima kasih, sebagai bagian dari pembentukan karakter dan sopan santun.
Pendampingan individual membuat anak lebih nyaman untuk belajar karena mereka mendapatkan perhatian secara langsung selama kegiatan berlangsung.
Pendekatan ini juga membantu mahasiswa dan guru memahami kebutuhan spesifik setiap anak sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan ritme belajar masing-masing.
Melalui kegiatan tersebut, anak tidak hanya berkembang pada aspek kognitif dan motorik, tetapi juga pada aspek sosial dan emosional.
PLP 2 PG PAUD Beri Pengalaman Berharga bagi Mahasiswa
Kolaborasi antara kegiatan klasikal dan individual menjadi salah satu pengalaman berharga bagi mahasiswa selama menjalani PLP 2 di ABA Bebekan.
Menurut Putri Wulandari, pengalaman mendampingi anak dengan pendekatan Montessori memberikan pemahaman baru tentang pentingnya menghargai proses belajar setiap anak.
“Awalnya saya beranggapan bahwa keberhasilan pembelajaran anak usia dini lebih banyak terlihat dari kemampuan anak mengikuti kegiatan bersama, namun melalui pendekatan Montessori saya menyadari bahwa setiap anak memiliki ritme dan cara belajar masing-masing,” ujarnya.
“Melihat mereka mampu mengenakan sepatu sendiri atau mengucapkan terima kasih tanpa bantuan menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” tambahnya.
Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa keberhasilan pembelajaran tidak selalu diukur dari hasil yang besar, tetapi juga dari perkembangan kecil yang ditunjukkan anak setiap hari.
Melalui PLP 2, mahasiswa belajar merancang kegiatan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran anak usia dini dapat dilakukan melalui pendekatan yang sederhana, menyenangkan, dan berpusat pada kebutuhan anak.
Penerapan Montessori di ABA Bebekan menjadi bukti bahwa perpaduan antara kegiatan klasikal dan individual mampu membantu anak mengembangkan kemampuan sosial, kemandirian, serta kepercayaan diri sebagai bekal untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
















